Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mengadakan “Diskusi Terpumpun Mitra Pembangunan dan Aktifis Pendidikan di Papua”

JAKARTA — Di tengah kekhawatiran masyarakat Indonesia atas situasi keamanan di tanah Papua paska penembakan pekerja pembangunan jembatan di kabupaten Nduga, Provinsi Papua, lebih dari 60 penggiat pendidikan berkumpul di Hotel Aston Marina, Jl. Lodan Raya No. 2, Jakarta Utara untuk memperkuat pendidikan di tanah Papua sebagai solusi fundamental atas berbagai permasalahan sosial ekonomi di Papua demi mewujudkan masyarakat Papua yang sejahtera.

Pada 7 sampai 8 Desember 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Pusat dan Daerah, mengadakan “Diskusi Terpumpun Mitra Pembangunan dan Aktifis Pendidikan di Papua” di Hotel Aston Marina, Jl. Lodan Raya No. 2, Jakarta Utara.

Diskusi ini menindaklanjuti Inpres Nomor 9 Tahun 2017 tentang Pembangunan Kesejahteraan Provinsi Papua dan Papua Barat. Inpres tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 11 Desember 2017 untuk mempercepat pembangunan di bidang kesehatan dan pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, infrastruktur dasar, infrastruktur digital, serta konektivitas guna mewujudkan masyarakat Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang damai dan sejahtera.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan Daerah Dr. James Modouw, M.MT, berkata bahwa pendidikan merupakan solusi fundamental untuk pembangunan kesejahteraan masyarakat Papua.

“Infrastruktur jalan itu penting untuk membuka akses dan konektivitas , sehingga terjadi kemudahan distribusi kebutuhan pasar untuk jangka panjang, tetapi yang sangat mendesak yang harus dibangun secara paralel saat ini ialah penguatan kualitas manusianya untuk memanfaatkan sarana tersebut,” James berkata.

Menurut James, tingginya buta aksara di Papua menyebabkan angka kemiskinan yang tinggi di sana dan kasus-kasus yang lain, seperti kematian anak-anak di Kabupaten Asmat, Kabupaten Yahukimo, dan beberapa tempat di Papua.

Enang Ahmadi, Direktur Pembinaan SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, setuju dengan James. Dia berkata penguatan sumber daya manusia di Papua melalui pendidikan karakter begitu penting dan mendesak, terutama di level SMP, untuk menumbuhkan bakat minat dan nationalisme yang kuat. Enang mengusulkan pengembangan pendidikan asrama di Papua, karena di asrama, guru memiliki waktu yang lebih banyak untuk menumbuhkan karakter anak-anak, termasuk kemandirian dan nilai-nilai gotong royong.

“Yang kedua, hubungan antara guru dan anak-anak akan sangat intense. Yang ketiga, pengendalian dan pengawasan guru terhadap anak-anak akan lebih optimal di asrama, terutama penguatan melalui ekstrakurikuler yang sangat penting untuk menumbuhkan karakter, bakat, minat dan prestasi anak-anak sehingga mereka bisa menjadi bintang,” ujar Enang.

Menurut James, kondisi Papua saat ini kondusif dan keamanan bagi siswa dan tenaga pengajar di Papua tetap terjamin. Dia menambahkan pembunuhan pekerja proyek di Kabupaten Nduga tidak mempengaruhi sektor pendidikan di Papua.

Diskusi Terpumpun Mitra Pembangunan dan Aktifis Pendidikan di Papua diikuti oleh perusahaan-perusahaan swasta yang peduli terhadap pendidikan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, seperti BP Indonesia, PT. Freeport Indonesia, Petrogas dan Medco Foundation.

Yayasan dalam dan luar negari yang juga hadir di diskusi ialah Yayasan Kitong Bisa, Yayasan Wahana Visi Indonesia, Yayasan Nusantara Sejati, Yayasan Pelangi, Yayasan Alirena dan Yayasan Papua Harapan.