Diskusi Publik: Menakar Harga Bahan Pokok dan Pakan Ternak

Jakarta – Faktor nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) disinyalir menjadi faktor naiknya harga kebutuhan pokok dan pakan ternak. Hal ini diungkapkan Bima Yudhistira selaku Direktur INDEF saat diskusi publik bertema Menakar Harga Bahan Pokok dan Pakan Ternak, Selasa, (25/9/2018) di gedung Joeang, Jakarta Pusat.

Beliau menambahkan, efek dari penurunan nilai tukar rupiah terhadap harga pangan maupun pakan ternak cenderung belum terlihat dampaknya saat ini.

Permasalahan harga kebutuhan bahan pokok bagi rakyat menjadi sebuah persoalan penting yang menuntut pemerintah segera mengatasinya dengan segala kebijakan-kebijakannya untuk menjaga stabilitas harga, terlebih jelang pemilu 2019 diperlukan kehati-hatian.

“Secara rata-rata sejak tahun 1967 sampai 2018 memang rata-rata nilai tukar rupiah sudah mengalami pelemahan tapi belum tentu kemudian berimbas kepada inflasi ataupun kenaikan harga,” ujar Bima.

“Hal mendasar yang membuat harga sulit untuk dikendalikan adalah perlunya menekan biaya logistik yang selama ini dinilai tinggi, dengan mendorong infrastruktur yang berkualitas untuk menurunkan biaya pakan maupun biaya pangan dan tata kelola pangan yang baik. Jika tata kelola pangan dari hulu sampai hilir rantai pasokannya diperpendek, maka bisa juga mereduksi harga jual di level konsumen dengan cukup signifikan” tutur Bima.

Direktur Pakan Kementerian Pertanian Sri Widayati juga mengatakan, hal yang perlu difikirkan dan dicermati bersama yaitu masih adanya 35 persen komponen bahan pakan impor. Meskipun persentasenya kecil, tetapi volumenya sangat mempengaruhi pembentukan harga akhir.

“Hal ini yang perlu kita benahi bersama manajemennya,” ujar Sri Widayanti.

Dikesempatan yang sama Kepala Seksi kemendag Yosep menjelaskan, secara umum suplai dan demand menjadi faktor penentu kebutuhan pokok. Selain itu, faktor lainnya adalah ada atau tidaknya aksi penimbunan, spekulasi, kurs dan harga internasional, logistik dan distribusi.

“Keseimbangan suplai dan demand ini cukup berpengaruh terhadap harga. Terjadinya suplai dan demand bukan hanya terjadi di hilir saja, akan tetapi di hulu juga terjadi suplai dan demand yaitu terbentuknya harga pakan dan bibit. Hal inilah yang menjadi masalah. Oleh karenanya, kita bisa mencari solusi bersama-sama dengan saling memberikan masukan,” ujar Yosep.

Dari sisi Pengamat Politik menilai Karyo Wibowo mengatakan, urusan pangan merupakan urusan yang sangat fundamental sekali karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam persaingan global, urusan pangan itu menjadi instrumen yang sangat penting bagi ketahanan suatu negara. Bahkan di beberapa negara yang mengalami penyimpangan maka terjadi konflik horizontal dan  vertikal sehingga melemahkan ketahanan negara tersebut. Oleh karenanya, ketahanan pangan itu menjadi instrumen penting dalam mempertahankan suatu negara.

“Kebijakan pangan era pemerintahan Jokowi memang masih menyisakan sebuah persoalan tetapi secara umum kebijakan pangan yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi itu cukup baik,” ujar Karyo Wibowo.